Kerja sama antara Telkomsel dan ZTE untuk mengembangkan AI-Native RAN membuka peluang besar dalam menyediakan akses internet ke wilayah terpencil. Teknologi canggih ini memungkinkan jaringan yang lebih stabil dan efisien, memastikan lebih banyak masyarakat Indonesia dapat menikmati akses internet berkualitas. Temukan bagaimana teknologi ini berpotensi mengubah akses digital di daerah-daerah sulit dijangkau.
Akses internet kini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, namun di beberapa wilayah Indonesia, koneksi internet yang cepat dan stabil masih sulit dijangkau. Untuk mengatasi tantangan ini, Telkomsel dan ZTE berkolaborasi memperkenalkan teknologi AI-Native RAN yang diharapkan bisa menjawab masalah tersebut. Dengan AI yang memantau dan mengelola jaringan secara otomatis, teknologi ini berfokus pada peningkatan kualitas jaringan di berbagai daerah, termasuk yang terpencil sekalipun.
AI-Native RAN memungkinkan Telkomsel untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya jaringan dan meminimalisir gangguan, bahkan di wilayah yang sebelumnya tidak terjangkau oleh teknologi jaringan tradisional. Penggunaan kecerdasan buatan dalam pengelolaan jaringan memungkinkan perubahan yang cepat dan responsif terhadap perubahan kondisi lapangan, sehingga mengurangi downtime dan memastikan jaringan tetap stabil.
Kolaborasi ini bukan hanya soal memperluas jaringan, tapi juga memberikan dampak positif pada kehidupan masyarakat di daerah-daerah yang sebelumnya terisolasi dari perkembangan teknologi digital. Dengan akses internet ke wilayah terpencil yang semakin mudah, harapan untuk mewujudkan pemerataan digital di Indonesia semakin dekat.
Telkomsel dan ZTE memperkuat kerja sama strategis untuk mendorong jaringan telekomunikasi yang lebih cerdas, stabil, dan merata di Indonesia. Kolaborasi yang diumumkan di ajang MWC Barcelona ini menempatkan kecerdasan buatan, perluasan broadband, dan inovasi untuk pelanggan enterprise sebagai tiga fokus utama.
Kerja sama tersebut muncul di tengah kebutuhan konektivitas yang terus meningkat, baik untuk pengguna ritel maupun pelaku industri. Dengan pendekatan berbasis AI dan penguatan infrastruktur jaringan, kedua perusahaan menargetkan layanan digital yang lebih responsif, terutama di wilayah yang selama ini sulit dijangkau.
AI-native RAN jadi fokus penguatan jaringan
Salah satu agenda penting dalam kemitraan ini adalah evaluasi kapabilitas AI-native Radio Access Network atau RAN. Teknologi ini dirancang agar jaringan dapat membaca pola trafik dan menyesuaikan kinerja secara lebih adaptif.
Pendekatan tersebut dinilai relevan karena kebutuhan data masyarakat makin beragam dan dinamis. Jaringan yang mampu beradaptasi lebih cepat dapat membantu operator menjaga kualitas layanan saat trafik melonjak pada jam sibuk atau saat terjadi peningkatan penggunaan layanan digital.
Selain itu, Telkomsel dan ZTE juga akan menguji konsep modul AIREngine pada platform BBU V9200. Uji coba ini diarahkan untuk memperkuat manajemen jaringan yang lebih berbasis pengalaman dan mendukung stabilitas layanan dalam skala besar.
Broadband diperluas ke wilayah yang masih tertinggal
Kemitraan ini tidak hanya menyasar performa jaringan di area padat pengguna, tetapi juga pemerataan akses digital. Telkomsel dan ZTE berencana memperluas implementasi Edge User Plane Function atau Edge UPF agar pemrosesan data berlangsung lebih dekat ke pengguna.
Langkah ini penting karena pemrosesan yang lebih dekat dapat menekan latensi, meningkatkan efisiensi, dan menjaga koneksi tetap stabil. Untuk negara kepulauan seperti Indonesia, pendekatan ini berpotensi membantu menghadirkan kualitas layanan yang lebih seragam, termasuk di wilayah terpencil dan kawasan dengan tantangan geografis tinggi.
Berikut fokus kolaborasi yang disepakati kedua perusahaan:
- Evaluasi AI-native RAN untuk mendukung layanan 5G yang lebih adaptif.
- Uji coba modul AIREngine pada platform BBU V9200.
- Ekspansi Edge UPF untuk memperkuat layanan broadband di wilayah terpencil.
- Program inovasi bersama dengan pelanggan enterprise berbasis use case AI.
- Pengembangan jaringan cerdas yang berorientasi pada pengalaman pelanggan.
Dorongan untuk sektor enterprise
Kolaborasi Telkomsel dan ZTE juga diarahkan ke kebutuhan industri dan pelanggan korporasi. Kedua perusahaan akan menjalankan program inovasi bersama untuk menguji use case AI yang dapat diterapkan pada kebutuhan nyata di lapangan.
Langkah ini penting karena sektor enterprise kini menuntut layanan digital yang lebih spesifik. Kebutuhan itu mencakup efisiensi operasional, otomasi proses, dan pengelolaan data yang lebih cerdas untuk mendukung pengambilan keputusan.
Dengan model uji coba yang lebih terarah, solusi yang dikembangkan diharapkan tidak berhenti pada konsep. Pendekatan ini memberi peluang agar hasil inovasi bisa langsung digunakan dan memberi nilai tambah bagi bisnis di berbagai sektor.
Direktur Planning & Transformation Telkomsel, Wong Soon Nam, menyebut kolaborasi ini sebagai bagian dari upaya memperkuat layanan telekomunikasi digital yang lebih mengutamakan pelanggan. Ia menegaskan integrasi kapabilitas jaringan cerdas berbasis AI akan membantu meningkatkan keandalan layanan, memperluas akses broadband yang lebih inklusif, dan membuka peluang baru bagi pelanggan serta industri di Indonesia.
Dari sisi ZTE, kerja sama ini dinilai sejalan dengan laju transformasi digital nasional yang terus berkembang. President Director ZTE Indonesia, Richard Liang, mengatakan bahwa pertumbuhan adopsi teknologi digital perlu ditopang infrastruktur yang makin kuat, cerdas, dan adaptif.
“Bersama Telkomsel, kami berkomitmen mendukung pengembangan kapabilitas jaringan yang cerdas dan adaptif guna menjawab kebutuhan pengguna dan industri yang terus berkembang,” kata Richard dalam keterangannya. Ia menambahkan bahwa efisiensi jaringan dan pengalaman layanan yang lebih baik dapat mendorong pertumbuhan digital yang lebih berkelanjutan.
Kemitraan ini juga menunjukkan bahwa persaingan industri telekomunikasi kini tidak hanya ditentukan oleh luas cakupan jaringan. Kemampuan jaringan memahami trafik, menjaga kualitas layanan, dan menjangkau wilayah yang belum optimal menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem digital yang lebih inklusif dan tahan menghadapi lonjakan kebutuhan data.
