Fenomena Artis Pamer Harta – Kehidupan pribadi dan sosial sebagaian kalangan artis Indonesia sarat dengan kemewahan dan keglamouran. Ada sebagian artis dalam suatu acara infotainment saling beradu dan pamer isi saldo rekeningnya melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM), dengan ratusan juta sampai milyaran.
Mereka juga memamerkan koleksi mobil-mobil mewahnya. Perilaku konsumtif lainnya, ketika para artis memamerkan barang-barang super mewah (baca: baju, tas, sepatu,dan sebagainya yang bermerk) secara ekpresif, ditayangkan juga oleh media TV. Selain itu, fenomena konsumtif yang dipertontonkan adalah selebrasi pernikahan artis.
Pernikahan yang sejatinya memiliki makna sakral-religius, akan tetapi dikapitalisasi menjadi sosio-economic capital, yang tidak hanya mampu menghasilkan keuntungan material, tetapi juga keuntungan non-material, khususnya identitas kultural.
Identitas kultural ini dapat menjadi identitas simbolik yang dapat dijadikan social previlage dan sebagai sumber pengakuan sosial (social regocnation).
Berdasarkan kasus di atas, jelaskan mengapa para selebritis tersebut memamerkan kemewahan dan keglamoran dengan aksi menunjukkan saldo rekening melalui ATM, barang mewah, dan pesta pernikahan sehingga terkesan pamer harta? Penjelasan Anda harus mengacu kepada teori masyarakat konsumsi Jean Baudrillard.
Jawab:
Fenomena Artis Pamer Harta dalam Perspektif Teori Masyarakat Konsumsi Jean Baudrillard
Fenomena artis pamer harta, seperti menunjukkan saldo rekening di ATM, memamerkan barang-barang mewah, hingga mengadakan pesta pernikahan yang megah, dapat dijelaskan melalui teori masyarakat konsumsi yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard. Teori ini menyoroti bagaimana masyarakat modern tidak hanya mengonsumsi barang atau jasa berdasarkan nilai guna (use value), tetapi juga berdasarkan nilai tanda (sign value), yang merepresentasikan status sosial, identitas, dan pengakuan dari masyarakat.
1. Konsumsi sebagai Representasi Identitas
Menurut Baudrillard, konsumsi di era modern bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan fungsional, melainkan sebagai cara untuk membangun dan menampilkan identitas diri. Para artis memanfaatkan kemewahan sebagai simbol status dan prestise yang menunjukkan keberhasilan mereka dalam industri hiburan. Ketika seorang artis memamerkan barang mewah seperti tas branded, mobil sport, atau saldo rekening bernilai fantastis, mereka sebenarnya sedang “menjual” citra diri sebagai individu sukses dan berpengaruh.
2. Nilai Tanda dan Simbol Kemewahan
Baudrillard menjelaskan bahwa dalam masyarakat konsumsi, barang-barang memiliki nilai tanda (sign value) yang merepresentasikan makna sosial tertentu. Tas bermerek bukan hanya tas, tetapi simbol kemewahan dan elitisme. Begitu pula saldo rekening yang ditunjukkan artis melalui ATM bukan hanya angka, melainkan simbol kekayaan dan kemampuan finansial. Dengan memamerkan atribut-atribut ini, para artis secara tidak langsung berupaya menunjukkan keunggulan mereka dibandingkan orang lain.
3. Kapitalisasi Budaya dan Ritual
Fenomena pesta pernikahan artis yang megah juga dapat dilihat sebagai bentuk kapitalisasi budaya. Pernikahan yang seharusnya bersifat sakral dan religius dikomodifikasi menjadi ajang konsumsi publik. Dalam pandangan Baudrillard, ini mencerminkan bagaimana nilai-nilai tradisional digantikan oleh nilai ekonomi dan sosial. Artis menggunakan momen pernikahan untuk memperkuat identitas kultural dan memperoleh pengakuan sosial (social recognition). Pernikahan mewah sering kali menjadi sumber sorotan media, memberikan mereka eksposur yang lebih besar dan berpotensi menghasilkan keuntungan material maupun non-material.
4. Media sebagai Penguat Konsumsi
Media memainkan peran penting dalam memfasilitasi dan memperkuat fenomena ini. Dengan menayangkan gaya hidup konsumtif artis, media turut membentuk persepsi publik bahwa kemewahan adalah standar keberhasilan dan kebahagiaan. Hal ini mendorong para artis untuk terus memamerkan kekayaan mereka demi mempertahankan popularitas dan relevansi di mata masyarakat.
5. Efek Psikososial dan Eksistensial
Dalam konteks psikososial, aksi pamer harta juga merupakan bentuk pencarian validasi dan pengakuan. Baudrillard menyebutkan bahwa individu dalam masyarakat konsumsi sering kali merasa “ada” atau bermakna ketika mereka diakui melalui barang-barang yang mereka miliki. Dengan kata lain, kemewahan menjadi cara artis untuk membangun eksistensi mereka di tengah persaingan ketat dalam dunia hiburan.
Kesimpulan
Dalam perspektif Jean Baudrillard, fenomena pamer harta oleh artis bukan sekadar tindakan konsumtif, melainkan strategi simbolik untuk menegaskan identitas, memperoleh pengakuan sosial, dan memperkuat posisi mereka dalam masyarakat. Tindakan ini juga mencerminkan bagaimana konsumsi telah menjadi pusat kehidupan masyarakat modern, di mana nilai-nilai tradisional dan religius sering kali tergeser oleh nilai tanda dan kapitalisasi budaya.